KURIKULUM PENDIDIKAN YANG SELALU BERUBAH
Seperti orang awam berkata: Ganti
Menteri , ganti juga kurikulum. Hal ini sudah menjadi rahasia umum, bahwa
kurikulum pendidikan di Indonesia selalu berganti-ganti , bahkan belum sampai 5
tahun sudah sering berganti-ganti. Entah apa sebabnya kurikulum sering diganti,
mungkin karena dengan alasan ingin menjadikan pendidikan di Indonesia lebih
maju, yang membuat sebagian besar dari kita kurang setuju dengan hal yang
demikian, karena dengan gonta ganti kurikulum bukan saja membingungkan sekolah
tetapi juga membingungkan siswa atau peserta didik yang pusing dengan gonta
ganti buku pelajaran dan mata pelajaran yang akan diikuti.
Selain itu juga akan mengeluarkan
biaya pendidikan yang besar untuk penyusunan dan pengerjaan kurikulum yang baru
yang akan diterapkan , yang akan melibatkan banyak pihak, seperti Pemerintah
pusat, pemerintah daerah dan dinas pendidikan serta dinas terkait lainnya. Bagi
orang yang berpikir kritis, tentu hal ini membuat tanda tanya dan pemikiran
kritis, yaitu banyaknya uang yang akan dicairkan untuk proyek kurikulum baru
tersebut. Jika hanya melanjutkan kurikulum yang lama , tentu biayanya tidak
sebesar biaya yang akan digelontorkan jika menggunakan kurikulum yang baru.
Mungkin ini yang membuat
pendidikan dan semua yang terlibat dalam pendidikan ini, membuat pendidikan di
Indonesia jalan di tempat dan bisa mundur dari negara lainnya. Seperti banyak
yang kita lihat dan baca, bahwa di luar negeri untuk pendidikan dasar tidak
harus banyak sekali pelajaran yang harus diikuti oleh siswa atau peserta didik dan
malahan di Negara Jepang untuk tingkat SD hanya menanamkan etika dan moral yang
kuat yang nantinya setelah itu baru dilanjutkan dengan pengetahuan dan
keterampilan lainnya.
Jadi, sebaiknya kita melihat cara
dan metode yang dipakai oleh Negara-negara maju pendidikannya yang cocok dengan
budaya ketimuran Indonesia , tidak ada salahnya kita contoh dan tiru sesuai
dengan situasi dan kondisi yang ada di Negara kita.
Selain itu, yang harus kita
perhatikan adalah nasib guru yang masih jauh dari kesejahteraan dibandingkan
dengan negara-negara tetangga yang hidup guru lebih makmur dan sejahtera.
Mungkin itu salah satu hambatan yang menjadi pendidikan di Indonesia yang masih
lambat perkembangannya, yang pendidikan hanya bisa dirasakan sepenuhnya di kota-kota
besar di Indonesia, yang berbanding terbalik di daerah-daerah yang jauh dari
kota dan terisolir. Boro-boro dapat pendidikan yang layak, untuk bangunan dan
sarana prasarana pendidikannya masih jauh dari kata layak.
Mari kita lihat disekeliling kita,
apakah masih ada yang belum merasakan pendidikan secara utuh dan sepenuhnya,
mulai dari masuk sekolah sampai tamat nantinya, yang masih sebagian besar
memungut biaya tambahan (seperti, uang komite), yang bertentangan dengan
Undang-Undang yang melarang pungutan kepada siswa atau peserta didik. Tapi
kenyataannya masih ada yang melakukan hal tersebut, dengan alasan untuk
biaya-biaya kegiatan siswa diluar PBM (proses belajar mengajar).
Dengan melihat kondisi Negara saat
ini, yang mengencangkan ikat pinggang dan efisiensi anggaran, maka pendidikan
semakin menjadi korban dengan segala keadaan dan kondisi yang akan dialami oleh
masing-masing daerah. Dan semoga hal ini semoga cepat berlalu, aamiin…
semoga pendidikan Indonesia memiliki karakter khusus
BalasHapuskurikulum yang membikin semuanya pusing
BalasHapuskurikulum , ntah sampai kapan gonta ganti terusss
BalasHapussudah capek dan pusingg
BalasHapushanya mementingkan proyeknya saja
BalasHapusharus dikaji ulang....
BalasHapusini yang selalu jadi polemik
BalasHapusakankah seperti ini terus menerus..
BalasHapusapalagi yang harus dilakukan..dan bagaimana mengatasinya
BalasHapustidak segampang yang kita lihat
BalasHapusmungkin yang diatas harus sering-sering lihat kebawah
BalasHapusini menjadi bukti bahwa pendidikan belum beres
BalasHapussemoga mempunyai jalan keluar yang tepat
BalasHapusyang selalu menjadi masalah tiap tahunnya
BalasHapusweleh..weleh..welehhh
BalasHapus