Tanggapan Dunia Arab terhadap Bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace (BoP)
1. Solidaritas Blok Delapan Negara Muslim
Dunia Arab tidak melihat bergabungnya Indonesia sebagai langkah sepihak, melainkan bagian dari strategi kolektif. Indonesia bergabung dalam pernyataan bersama dengan tujuh negara mayoritas Muslim lainnya pada 21 Januari 2026. Negara-negara tersebut meliputi:
Arab Saudi
Uni Emirat Arab (UEA)
Qatar
Mesir
Yordania
Turki
Pakistan
Tanggapannya: Para Menteri Luar Negeri dari negara-negara Arab ini menyatakan bahwa kehadiran Indonesia (sebagai negara Muslim terbesar) sangat krusial untuk memberikan bobot diplomatik dan menyeimbangkan pengaruh AS serta Israel di dalam dewan tersebut.
2. BoP sebagai "Pemerintahan Transisi" di Gaza
Dunia Arab, khususnya Mesir dan Yordania yang berbatasan langsung dengan konflik, memandang BoP sebagai alat pragmatis. Dalam pernyataan bersama, negara-negara Arab dan Indonesia mendefinisikan BoP sebagai:
Administrasi Transisi: Untuk mengawal gencatan senjata permanen.
Fasilitator Rekonstruksi: Menggalang dana besar-besaran untuk membangun kembali Gaza yang hancur.
Jembatan Solusi Dua Negara: Meskipun dipimpin Trump, blok Arab-Indonesia menekankan bahwa keikutsertaan mereka adalah untuk memastikan hak rakyat Palestina atas kemerdekaan tetap menjadi agenda utama.
3. Dinamika Hubungan dengan Israel
Salah satu poin paling krusial adalah fakta bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga menjadi anggota BoP.
Respon Arab Saudi & Qatar: Mereka cenderung menggunakan forum ini sebagai saluran diplomasi langsung yang baru tanpa harus membuka hubungan diplomatik formal (normalisasi) terlebih dahulu.
Peran Indonesia: Dunia Arab menyambut kehadiran Indonesia sebagai "penjaga moral". Karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, negara-negara Arab berharap Indonesia bisa menjadi suara yang paling lantang menentang kebijakan Israel yang merugikan Palestina di dalam forum tersebut.
4. Tantangan dan Skeptisism Internasional
Meski negara-negara kunci Arab bergabung, terdapat tekanan dan kritik:
Kritik Internal: Di dalam negeri masing-masing (termasuk Indonesia dan beberapa negara Arab), terdapat kekhawatiran bahwa BoP hanyalah alat transaksi ekonomi Trump, mengingat adanya isu iuran keanggotaan yang mencapai angka fantastis (sekitar Rp17 triliun).
Legitimasi PBB: Beberapa pihak di dunia Arab masih mempertanyakan mengapa BoP dibentuk di luar mekanisme resmi PBB, meskipun resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2803 telah memberikan lampu hijau pada kerangka kerja yang dimediasi AS ini.
Kesimpulan Kedudukan Indonesia
Bagi dunia Arab, bergabungnya Indonesia ke dalam BoP memberikan "legitimasi moral" bagi mereka untuk berurusan dengan inisiatif Trump. Tanpa Indonesia, forum ini mungkin akan terlihat terlalu condong pada kepentingan Barat. Dengan adanya Indonesia, blok negara Muslim merasa memiliki kekuatan tawar yang lebih seimbang untuk memastikan bahwa perdamaian yang dihasilkan adalah perdamaian yang adil bagi Palestina.

0 Komentar
TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA