Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Cahaya di Balik Kabut: Kisah Pak Surya dan Arga

 Cahaya di Balik Kabut: Kisah Pak Surya dan Arga

Bab I: Dinding Pemberontakan

Di SMA Pelita Bangsa, tidak ada siswa yang memancarkan aura pemberontakan sekuat Arga. Cerdas, namun sinis. Berbakat, tetapi energinya selalu diarahkan untuk mengganggu. Target favoritnya: Pak Surya, guru Sejarah yang memiliki ketenangan seperti danau yang tak pernah terusik.

Pak Surya adalah antitesis dari kegaduhan. Ia selalu mengenakan kemeja rapi, berbicara lembut, dan matanya memancarkan empati yang aneh. Arga membencinya. Menurut Arga, Pak Surya adalah simbol kelemahan dan kepura-puraan.

Puncak kejahatan Arga terjadi pada Hari Guru. Saat Pak Surya sedang menjelaskan evolusi peradaban Romawi, Arga menyalakan sebuah rekaman suara yang sangat keras, menyela pelajaran dengan tawa palsu yang direkam. Seluruh kelas tertawa, kecuali Pak Surya.

Alih-alih marah, Pak Surya hanya berhenti, membiarkan tawa itu reda, lalu menatap Arga. Tatapan itu tidak mengandung kemarahan, hanya rasa kecewa yang mendalam—seperti seorang ayah melihat anaknya terjatuh.

"Arga," kata Pak Surya, suaranya pelan, "Saya mengerti kamu ingin perhatian. Tapi, cara ini hanya akan membuang-buang potensi luar biasa yang ada di dirimu. Temui saya setelah pulang sekolah."

Arga hanya menyeringai, merasa menang.

Bab II: Ujian Kesabaran

Sepulang sekolah, Arga mendatangi ruang guru dengan malas. Ia siap menerima hukuman: membersihkan toilet, mencatat sejarah 100 kali. Hukuman fisik adalah bahasa yang ia pahami.

Namun, Pak Surya tidak menghukumnya.

"Duduklah, Arga," Pak Surya menawarkan teh hangat di meja kerjanya yang selalu rapi. "Saya melihat tugas esaimu tentang Revolusi Industri. Analisismu tajam, sudut pandangmu unik. Tapi ada kemarahan yang tertulis di setiap kalimat. Kemarahan itu bukan tentang sejarah, kan?"

Arga terdiam. Ia tidak pernah menyangka Pak Surya akan melihat lebih dari sekadar kenakalan.

"Itu bukan urusan Bapak," jawab Arga dingin, berdiri.

Pak Surya menghela napas. "Mungkin bukan. Tapi saya pernah melihat kemarahan yang sama di mata seorang remaja yang kesepian. Ayahmu seorang pilot, sering tidak di rumah. Ibumu sibuk dengan yayasan amal. Kamu merasa ditinggalkan, jadi kamu membangun benteng dengan perisai kenakalan."

Arga terhenyak. Ia tidak pernah membicarakan kehidupan pribadinya. Bagaimana Pak Surya tahu?

"Kamu hebat, Arga. Jangan biarkan bakatmu terkunci di balik dinding kemarahan. Saya di sini. Bukan sebagai hakim, tapi sebagai jembatan," ujar Pak Surya.

Arga tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya pergi, namun kali ini, senyum kemenangannya telah lenyap.

Bab III: Badai yang Sesungguhnya

Hubungan Arga dan Pak Surya tidak membaik dalam semalam. Arga masih dingin, masih membuat ulah kecil. Namun, ia tidak pernah lagi mengganggu pelajaran Pak Surya. Seolah ada perjanjian diam-diam yang ia patuhi.

Sampai badai yang sesungguhnya datang.

Tepat dua bulan sebelum Ujian Nasional, ayah Arga mengalami kecelakaan penerbangan yang parah. Ayahnya selamat, tetapi menderita cedera serius yang memerlukan perawatan intensif di luar negeri selama setahun, menghabiskan hampir seluruh tabungan keluarga. Beban finansial yang tiba-tiba melilit membuat ibunya mengalami tekanan berat, dan Arga terpaksa mengambil pekerjaan paruh waktu setelah sekolah sebagai pengantar barang.

Sekolahnya hancur. Wajahnya lesu. Ia sering bolos, dan ketika hadir, ia tertidur di bangku.

Kepala Sekolah memanggilnya. "Arga, nilai-nilaimu di ambang batas. Jika ini terus berlanjut, kamu tidak bisa ikut Ujian Nasional. Kami harus memanggil orang tuamu."

Arga panik. Ia tidak ingin menambah beban ibunya. Ia memutuskan untuk menyerah.

Keesokan harinya, Arga meninggalkan surat singkat di laci mejanya, menyatakan bahwa ia keluar dari sekolah. Ia berencana pergi ke luar kota, mencari pekerjaan penuh waktu.

Bab IV: Pengorbanan Sang Jembatan

Ketika Pak Surya menyadari Arga tidak hadir, ia menemukan surat singkat itu.

Pak Surya segera mendatangi Kepala Sekolah. Ia tidak memohon atau berdebat. Ia hanya melakukan sesuatu yang radikal.

"Pak Kepala Sekolah," katanya tegas, "Saya akan menjamin Arga. Saya akan bertanggung jawab penuh atas kehadirannya, dan saya akan memberikan les tambahan setiap malam. Biarkan dia tetap terdaftar."

Kepala Sekolah ragu. "Pak Surya, anak itu adalah masalah. Anda sudah terlalu banyak berkorban."

"Justru di saat dia paling bermasalah, dia paling membutuhkan saya," jawab Pak Surya. "Dan jika dia tidak lulus, saya siap menanggung sanksi."

Yang lebih mengejutkan, Pak Surya pergi mencari Arga. Dia menemukan Arga di sebuah terminal bus, ransel usang di kakinya, wajahnya penuh tekad putus asa.

"Mau ke mana, Arga?" tanya Pak Surya, duduk di sampingnya.

"Bukan urusan Bapak. Saya harus kerja. Ayah butuh uang."

"Saya tahu. Dan saya sudah membicarakannya dengan ibumu," kata Pak Surya pelan. "Ibumu tidak ingin kamu menyerah. Arga, saya tahu kamu jenius di bidang Sejarah dan Sastra. Saya yakin kamu bisa mendapatkan beasiswa penuh di universitas manapun."

Pak Surya kemudian mengeluarkan sebuah buku tabungan yang sudah lusuh.

"Ini adalah tabungan saya untuk membeli kamera baru yang sudah lama saya idamkan. Tidak banyak, tapi cukup untuk biaya les privat intensif selama dua bulan penuh, setelah kamu selesai mengantar barang. Ambil ini. Fokus pada ujianmu. Sisanya, kita hadapi bersama. Anggap ini adalah pinjaman persahabatan, bukan amal."

Arga menatap buku tabungan itu, lalu menatap wajah Pak Surya. Guru yang selama ini ia hina, ia caci, ia kerjai, kini menyerahkan impian pribadinya demi masa depannya. Arga merasakan sesuatu yang asing, sesuatu yang lebih panas dari kemarahan, menggenangi matanya.

"Kenapa, Pak? Kenapa Bapak masih mau bantu saya?" Suara Arga serak.

Pak Surya tersenyum, senyum yang membawa ketenangan. "Karena kamu adalah murid saya. Dan tidak ada siswa yang boleh tenggelam selama saya masih bisa berenang, Arga. Sekarang, mari kita kembali."

Bab V: Cahaya

Arga kembali ke sekolah. Ia bekerja keras, mengantar barang hingga larut malam, kemudian belajar bersama Pak Surya hingga pukul 11 malam.

Pak Surya tidak hanya mengajar Sejarah. Ia mengajar Arga tentang disiplin, tentang bagaimana mengubah kemarahan menjadi energi, dan bagaimana memaafkan keadaan.

Dua bulan kemudian, Arga lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya, terutama di mata pelajaran Sejarah dan Sastra. Ia mendapatkan beasiswa penuh dari universitas bergengsi di luar negeri.

Saat perpisahan, Arga menemui Pak Surya. Air mata menetes di pipinya.

"Pak... Saya minta maaf untuk semua perlakuan saya. Bapak... Bapak adalah ayah yang tidak pernah saya miliki di rumah," Arga memeluk gurunya erat.

Pak Surya menepuk bahu Arga. "Kemarahanmu sudah menjadi abu, Arga. Sekarang, bangunlah istana dari abu itu. Dan jangan lupakan janjimu untuk mengembalikan 'pinjaman' ini, ya?" Pak Surya tersenyum.

Epilog: Kembali ke Akar

Dua puluh tahun kemudian.

Sebuah acara penghargaan bergengsi bagi penulis dan sejarawan muda diadakan di ibu kota. Pembicara utamanya adalah Dr. Arga Dirgantara, sejarawan dan penulis novel laris.

Di tengah pidatonya, Dr. Arga berhenti. Matanya menyapu deretan kursi paling belakang, tempat ia melihat seorang pria tua dengan kemeja rapi, rambut memutih, tersenyum bangga.

"Dua puluh tahun yang lalu," ujar Arga dengan suara bergetar, "saya adalah sampah. Saya menghina dan mencela satu-satunya orang yang melihat cahaya di balik kegelapan saya. Hari ini, saya berdiri di sini, bukan karena kecerdasan saya, tapi karena pengorbanan sebuah kamera baru."

Ia menunjuk ke belakang.

"Pak Surya. Guru Sejarah saya. Ia tidak mengajari saya Sejarah peradaban Romawi. Ia mengajari saya Sejarah Kebaikan. Ia mengajari saya bahwa empati adalah kekuatan tertinggi, dan bahwa tidak ada investasi yang lebih berharga selain menolong seorang anak yang tersesat."

Arga turun dari podium, berjalan cepat ke arah Pak Surya. Ia memeluk gurunya, lalu dengan hormat mencium tangan keriput itu.

"Ini janji saya, Pak," bisik Arga, menyerahkan sebuah amplop tebal. "Beasiswa penuh atas nama Bapak, bagi lima siswa kurang mampu di SMA Pelita Bangsa setiap tahun."

Pak Surya hanya bisa menahan air mata. Ia memeluk Arga erat, tanpa kata.

Arga akhirnya berhasil mengembalikan ‘pinjaman’ dari Pak Surya, tidak hanya dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk cahaya baru yang kini ia sebarkan kepada generasi berikutnya. Pelajaran yang ia terima dari gurunya adalah: Kebaikan sejati adalah yang diberikan tanpa mengharapkan balasan, dan ia akan berbuah menjadi cahaya bagi orang lain.

Posting Komentar

0 Komentar