Header Ads Widget

Responsive Advertisement

20 Cerita Satir: Pejabat Korup vs Rakyat

 20 Cerita Satir: Pejabat Korup vs Rakyat

1. Aspal Setipis Bedak

Rakyat: "Pak, kenapa jalan desa kami baru seminggu sudah bolong?" Pejabat: "Itu konsep baru, Nak. Namanya jalan 'porous'. Biar air cepat meresap ke tanah." Rakyat: "Tapi ini aspalnya lebih tipis dari bedak istri Bapak!" Pejabat: "Ya memang sengaja, supaya mobil kalian tidak ngebut. Saya peduli keselamatan kalian!"

2. Kursi Paripurna

Rakyat: "Pak, kursi kantor Bapak harganya satu miliar?" Pejabat: "Tenang, ini untuk kepentingan rakyat. Kursi ini punya sensor pendeteksi penderitaan rakyat." Rakyat: "Terus, apa hasilnya?" Pejabat: "Begitu saya duduk, sensornya bilang: 'Anda butuh pijatan, karena memikirkan rakyat itu melelahkan'."

3. Jembatan Ghaib

Rakyat: "Pak, jembatan yang dianggarkan lima miliar mana? Kok cuma ada talinya?" Pejabat: "Kalian ini kurang literasi digital. Itu jembatan berbasis Cloud." Rakyat: "Maksudnya?" Pejabat: "Hanya orang-orang yang beriman dan bayar pajak saja yang bisa melihatnya."

4. Mobil Dinas Baru

Rakyat: "Banjir di mana-mana, kok malah beli mobil dinas mewah?" Pejabat: "Mobil ini tinggi, biar saya bisa meninjau kalian tanpa basah kaki." Rakyat: "Kenapa tidak beli perahu karet buat kami?" Pejabat: "Kalau pakai perahu, nanti saya terlihat seperti pengungsi, bukan pemimpin!"

5. Anggaran Gorden

Rakyat: "Gorden rumah dinas dua miliar? Pakai emas?" Pejabat: "Bukan, ini gorden anti-tembus pandang." Rakyat: "Kenapa harus begitu?" Pejabat: "Supaya malaikat pun tidak tahu kalau saya sedang menghitung uang... maksud saya, menghitung amal!"

6. Studi Banding

Rakyat: "Kenapa harus studi banding ke Paris buat bahas selokan desa?" Pejabat: "Di sana ada Menara Eiffel. Kita perlu tahu bagaimana cara membuang air dari ketinggian." Rakyat: "Kan Paris tidak punya selokan macet?" Pejabat: "Makanya kita ke sana, biar kita tahu rasanya hidup tanpa selokan macet!"

7. Uang Lelah

Rakyat: "Pak, kenapa ada biaya tambahan kalau urus surat di kantor Bapak?" Pejabat: "Itu namanya 'Uang Pelicin'. Biar roda birokrasi tidak berdecit." Rakyat: "Tapi kantong saya yang berdecit karena kering!" Pejabat: "Nah, itu tandanya birokrasi kita sedang bekerja maksimal menguras beban Anda."

8. Rumah Mewah

Rakyat: "Pak, gaji Bapak sepuluh juta, tapi rumah Bapak tiga?" Pejabat: "Oh, itu hasil menabung. Saya makan nasi garam setiap hari." Rakyat: "Terus kenapa Bapak kelihatan makin gemuk?" Pejabat: "Ini bengkak karena terlalu banyak memikirkan utang negara!"

9. Bantuan Sosial

Rakyat: "Pak, paket bansos kami isinya cuma mi instan dan sarden kecil?" Pejabat: "Syukuri saja. Itu mengandung protein tinggi." Rakyat: "Tapi anggarannya kan daging sapi?" Pejabat: "Daging sapinya sudah dititipkan ke perut saya, biar saya kuat membagikan paket ke kalian."

10. Jabatan Turunan

Rakyat: "Kenapa anak, menantu, dan keponakan Bapak masuk semua jadi staf?" Pejabat: "Ini demi efisiensi. Kalau rapat keluarga, kita bisa sekaligus bahas rapat anggaran." Rakyat: "Tapi mereka tidak kompeten!" Pejabat: "Mereka sangat kompeten dalam menjaga rahasia keluarga... eh, maksud saya rahasia negara!"

11. Laptop Lima Puluh Juta

Rakyat: "Beli laptop harganya lima puluh juta? Spesifikasinya apa?" Pejabat: "Ini laptop canggih. Ada fitur otomatis menghapus histori korupsi... maksud saya, histori pencarian Google." Rakyat: "Kenapa mahal sekali?" Pejabat: "Karena klik tombol 'Enter'-nya terasa seperti melangkah ke surga."

12. Pagar Kantor

Rakyat: "Pagar kantor Bapak baru lagi? Padahal yang lama masih bagus." Pejabat: "Ini pagar psikologis. Biar kalian tidak stres melihat kemewahan di dalam." Rakyat: "Tapi kami stres karena tidak bisa lewat!" Pejabat: "Itulah tujuannya, biar kalian belajar sabar dan tabah."

13. Dana Desa

Rakyat: "Dana desa habis buat bikin gapura, tapi air bersih tidak ada?" Pejabat: "Gapura itu simbol. Biar tamu tahu kalau di sini ada pemimpin." Rakyat: "Tapi tamunya haus, Pak!" Pejabat: "Suruh mereka minum dari air mata kebahagiaan karena melihat gapura yang megah!"

14. Jam Tangan

Rakyat: "Jam tangan Bapak harganya bisa buat bangun satu sekolah." Pejabat: "Ini jam sakti. Bisa menghentikan waktu kalau ada KPK datang." Rakyat: "Bapak tidak takut dosa?" Pejabat: "Jam ini ada alarmnya. Begitu saya berdosa, jamnya bunyi... tapi saya matikan baterainya."

15. Internet Cepat

Rakyat: "Katanya anggarannya buat internet cepat, kok lemot?" Pejabat: "Internet itu harus pelan, biar kalian tidak cepat terpengaruh berita hoaks." Rakyat: "Hoaks tentang korupsi Bapak?" Pejabat: "Nah, itu contohnya! Kalian sudah terlalu cepat menyerap informasi yang tidak menguntungkan saya."

16. Kunjungan Kerja

Rakyat: "Pak, kunjungan kerja kok ke Bali pas musim liburan?" Pejabat: "Saya sedang meneliti korelasi antara pasir pantai dan daya tahan beton jembatan." Rakyat: "Hasilnya?" Pejabat: "Hasilnya saya harus balik lagi bulan depan untuk penelitian lanjutan di mal-mal terdekat."

17. Sepatu Mahal

Rakyat: "Sepatu Bapak mengkilap sekali, harganya berapa?" Pejabat: "Ini sepatu rakyat. Kulitnya diambil dari sapi yang paling bahagia." Rakyat: "Kenapa mahal?" Pejabat: "Karena setiap saya melangkah, sepatu ini membisikkan doa: 'Semoga proyek berikutnya cair'."

18. Rapat di Hotel

Rakyat: "Kenapa rapat anggaran harus di hotel bintang lima?" Pejabat: "Biar pikirannya jernih. Kalau rapat di kantor, nanti terganggu suara demo kalian di luar." Rakyat: "Kami demo karena Bapak rapat di hotel!" Pejabat: "Itulah siklus kehidupan. Kalian demo, saya makin butuh hotel mewah untuk menenangkan diri."

19. Lampu Jalan

Rakyat: "Lampu jalan mati semua, Pak. Bahaya kalau malam." Pejabat: "Ini program 'Hemat Energi Dunia'. Kita harus peduli lingkungan." Rakyat: "Tapi anggarannya cair miliaran?" Pejabat: "Uangnya dipakai buat beli senter di rumah dinas saya. Kalau saya gelap, siapa yang mau memimpin kalian?"

20. Seragam Baru

Rakyat: "Tiap tahun ganti seragam, anggarannya naik terus?" Pejabat: "Penampilan itu nomor satu. Kalau pejabatnya ganteng, rakyat kan bangga." Rakyat: "Kami lebih bangga kalau tidak lapar, Pak." Pejabat: "Tenang, kalau perut kalian lapar, setidaknya mata kalian kenyang melihat seragam baru saya yang berkilau!"

Posting Komentar

0 Komentar