Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Situasi Hantavirus di Indonesia (Update Mei 2026)

 Situasi Hantavirus di Indonesia (Update Mei 2026)

Hantavirus kembali menjadi perhatian serius di Indonesia menyusul laporan temuan virus pada populasi tikus di beberapa wilayah perkotaan padat penduduk dan pelabuhan. Berbeda dengan COVID-19, Hantavirus tidak menular antarmanusia, melainkan melalui kontak dengan hewan pengerat (tikus).

1. Perkembangan Kasus Terbaru

Hingga Mei 2026, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan adanya peningkatan deteksi antibodi Hantavirus pada sampel darah di beberapa titik panas (hotspots).

  • Wilayah Terdeteksi: Fokus utama pengawasan berada di Jakarta (khususnya area pelabuhan), Semarang, dan Surabaya.

  • Kasus Manusia: Belum dilaporkan adanya lonjakan kasus fatal secara massal, namun beberapa kasus suspek dengan gejala demam berdarah tinggi yang tidak merespons pengobatan DBD standar kini mulai dipantau secara ketat sebagai potensi infeksi Hantavirus.

  • Temuan Epidemiologi: Berdasarkan riset terbaru, jenis virus yang paling banyak ditemukan di Indonesia adalah Seoul Virus (SEOV) yang dibawa oleh tikus got (Rattus norvegicus).


2. Gejala dan Manifestasi Klinis

Hantavirus di Indonesia umumnya bermanifestasi dalam bentuk HFRS (Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome) atau Demam Berdarah dengan Sindrom Ginjal.

Fase Awal (Hari 1-5):

  • Demam tinggi mendadak.

  • Nyeri otot (terutama di punggung dan paha).

  • Sakit kepala hebat dan menggigil.

  • Gejala gastrointestinal (mual, muntah).

Fase Lanjutan:

  • Penurunan tekanan darah secara drastis (hipotensi).

  • Gagal ginjal akut (ditandai dengan penurunan produksi urin).

  • Manifestasi perdarahan (bintik merah di kulit).

3. Cara Penularan (Zoonosis)

Manusia terinfeksi melalui proses aerosolisasi, yaitu menghirup udara yang terkontaminasi oleh partikel dari:

  1. Urin tikus yang terinfeksi.

  2. Kotoran (feses) tikus.

  3. Air liur tikus.

  4. Gigitan tikus (kasus jarang).

4. Analisis Risiko di Indonesia

Indonesia memiliki risiko endemisitas tinggi karena:

  • Urbanisasi Padat: Area pemukiman kumuh dengan sanitasi buruk meningkatkan interaksi manusia dengan tikus.

  • Iklim Tropis: Mendukung keberlangsungan hidup hewan pengerat sepanjang tahun.

  • Kurangnya Kesadaran: Banyak masyarakat yang menyalahartikan gejala Hantavirus sebagai flu biasa atau DBD, sehingga terjadi keterlambatan penanganan ginjal.

5. Langkah Pencegahan dan Kendali

Kemenkes bersama Dinas Kesehatan daerah telah mengeluarkan protokol pencegahan sebagai berikut:

  • Pengendalian Tikus: Menggunakan jebakan atau menutup lubang akses tikus di rumah.

  • Kebersihan Lingkungan: Membersihkan area yang dicurigai ada sarang tikus menggunakan disinfektan (karbol/pemutih). Jangan menyapu kering kotoran tikus; basahi dulu dengan disinfektan agar partikel tidak terbang dan terhirup.

  • Penyimpanan Makanan: Pastikan semua bahan makanan disimpan dalam wadah tertutup rapat yang tidak bisa ditembus tikus.

  • Alat Pelindung Diri (APD): Gunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan gudang atau area yang sudah lama tidak terpakai.

Kesimpulan

Meskipun Hantavirus tidak berpotensi menjadi pandemi global seperti virus pernapasan, tingkat fatalitasnya yang menyerang ginjal tetap tinggi. Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke rumah sakit jika mengalami demam tinggi setelah melakukan kontak atau pembersihan area yang banyak dihuni tikus.

Sumber: Ringkasan Laporan Epidemiologi Nasional & Buletin Kesehatan Zoonosis 2026.

Posting Komentar

0 Komentar