Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Harga HIP Biodiesel (BBM Sawit) - Mei 2026

Harga HIP Biodiesel (BBM Sawit) - Mei 2026

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah resmi menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis Biodiesel untuk bulan Mei 2026. Terdapat kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya.

1. Penetapan Harga Resmi

Berdasarkan surat keputusan Direktorat Jenderal EBTKE, harga Biodiesel ditetapkan sebesar Rp 14.917 per liter.

Harga ini berlaku efektif mulai tanggal 1 Mei 2026 hingga 31 Mei 2026. Angka ini belum termasuk ongkos kirim yang besarannya telah diatur dalam Keputusan Menteri ESDM.

2. Perbandingan dengan Bulan Sebelumnya

Kenaikan harga ini terpantau cukup tajam. Sebagai perbandingan:

  • HIP April 2026: Rp 13.850/liter

  • HIP Mei 2026: Rp 14.917/liter

  • Selisih Kenaikan: Rp 1.067 per liter (naik sekitar 7,7%).


3. Faktor Penyebab Kenaikan

Beberapa faktor utama yang mempengaruhi kenaikan harga BBM sawit di bulan Mei 2026 antara lain:

  • Kenaikan Harga CPO: Rata-rata harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) di pasar internasional maupun domestik (KPB Nusantara) mengalami lonjakan sepanjang bulan April yang menjadi acuan penetapan harga Mei.

  • Nilai Tukar Rupiah: Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang sedikit melemah mempengaruhi variabel biaya dalam formula perhitungan HIP.

  • Biaya Konversi: Adanya penyesuaian biaya konversi dari CPO menjadi Biodiesel yang saat ini berada di level US$ 85 per metrik ton.

4. Mekanisme Perhitungan

Sesuai dengan regulasi yang berlaku, formula perhitungan HIP Biodiesel adalah:

HIP = (Rata-rata Harga CPO KPB + Biaya Konversi) x Faktor Satuan

Angka Rp 14.917 ini mencerminkan kondisi pasar komoditas sawit global yang sedang mengalami tren bullish atau menguat.

5. Dampak pada Program B40/B50

Kenaikan harga ini menjadi perhatian serius bagi Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), karena selisih antara harga pasar Biodiesel dengan harga pasar solar fosil (BBM Diesel) akan semakin lebar, yang berdampak pada peningkatan beban subsidi atau insentif yang harus dibayarkan.

Sumber Informasi: Data resmi Kementerian ESDM, rilis Ditjen EBTKE, dan pantauan pasar komoditas per 1 Mei 2026.

Posting Komentar

0 Komentar