Header Ads Widget

Responsive Advertisement

Lowongan Kerja di Ujung Tanduk: Saga Bambang dan Perusahaan Absurd

 Lowongan Kerja di Ujung Tanduk: Saga Bambang dan Perusahaan Absurd

Bab 1: Persiapan yang Terlalu Matang

Bambang terbangun pukul 04.00 pagi. Bukan karena disiplin, tapi karena alarm jam bekerjanya jatuh tepat di atas hidungnya. Hari ini adalah hari besar. Ia akan melamar kerja sebagai "Asisten Spesialis Pengukur Kedalaman Penyesalan" di PT. MCSB.

Ia memakai kemeja putih yang disetrika sedemikian rupa hingga lalat yang mencoba hinggap pun akan terpeleset karena terlalu licin. Celananya? Celana bahan hitam yang saking ketatnya, Bambang harus bernapas lewat telinga.

"Bambang," ucapnya pada cermin. "Kamu tampan. Kamu cerdas. Kamu hanya kurang saldo."

Cermin itu retak. Bambang menganggap itu sebagai tanda bahwa ketampanannya sudah melampaui kapasitas material kaca.

Bab 2: Perjalanan Menuju Tak Terbatas (dan Melampauinya)

Bambang naik ojek online. Driver-nya ternyata mantan filsuf yang sedang menyamar.

Driver: "Mas, tujuan kita ke mana?" Bambang: "Gedung Menara Gading Lantai 99, Pak. Cepat ya, saya ada interview jam 8." Driver: "Cepat itu relatif, Mas. Kalau kita cepat tapi tujuan kita fana, buat apa? Kita ini hanya debu kosmik yang kebetulan butuh rating bintang lima." Bambang: "Pak, tolong. Kalau saya telat, debu kosmik ini bakal jadi pengangguran abadi."

Sepanjang jalan, Bambang berlatih menjawab pertanyaan. "Apa kelemahan Anda?" Jawaban normal: "Saya terlalu perfeksionis." Jawaban Bambang: "Kelemahan saya adalah saya terlalu mencintai perusahaan ini padahal kita baru ketemu di brosur kemarin."


Bab 3: Gedung yang Membingungkan

Sampai di depan gedung, Bambang disambut oleh satpam yang mengenakan baju zirah abad pertengahan.

Satpam: "Berhenti! Sebutkan kata sandi untuk masuk ke istana korporat ini!" Bambang: "Hah? Kata sandi? Di email cuma disuruh bawa fotokopi KTP legalisir kelurahan, Pak!" Satpam: "Salah! Kata sandinya adalah: 'Gaji UMR, kerja bak pahlawan Marvel'." Bambang: "Gaji UMR, kerja bak pahlawan Marvel..." Satpam: "Silakan masuk. Jangan lupa ambil nomor antrean di mulut patung singa itu."

Bambang memasukkan tangannya ke mulut patung singa. Alih-alih kertas, tangannya malah dijilat oleh patung tersebut. Nomor antreannya tertulis di telapak tangannya dengan tinta air liur stroberi: Nomor 0.001.

Bab 4: Ruang Tunggu dari Neraka

Di ruang tunggu, Bambang duduk di samping seorang pria yang membawa akuarium berisi ikan mas koki.

Bambang: "Lamar posisi apa, Mas?" Pria Ikan: "Manajer Komunikasi Antar Spesies. Ini bos saya," (menunjuk ke ikan mas koki). "Dia yang bakal interview HRD-nya nanti." Bambang: "Oh... masuk akal. Saya cuma melamar jadi pengukur penyesalan." Pria Ikan: "Hati-hati, HRD di sini namanya Ibu Siska. Dia bisa membaca pikiran melalui aroma kaus kaki."

Bambang mendadak pucat. Ia ingat tadi pagi memakai kaus kaki motif 'Doraemon' yang sudah dipakai tiga hari berturut-turut.

Bab 5: Interview yang Sangat Tidak Masuk Akal

"Nomor 0.001, silakan masuk!" teriak suara toa masjid dari balik pintu emas.

Bambang masuk. Ruangannya kosong, kecuali satu meja tinggi dan seorang wanita yang duduk di atas ayunan yang tergantung dari langit-langit. Itulah Ibu Siska.

Ibu Siska: "Duduk, Bambang. Jangan di kursi, duduk di atas tumpukan harapan yang sirna itu," (menunjuk ke tumpukan map lamaran yang sudah jadi abu). Bambang: "Baik, Bu. Terima kasih atas kesempatannya."

Ibu Siska: "Pertanyaan pertama. Jika kamu adalah sebuah sayuran, kenapa kamu tidak menjadi buah saja?" Bambang: (Berpikir keras hingga keluar asap dari ubun-ubun) "Karena sayur itu sehat, Bu. Buah itu manis. Saya tidak mau menjadi manis karena saya ingin memberikan kesehatan bagi perusahaan ini tanpa menyebabkan diabetes finansial."

Ibu Siska: "Menarik. Pertanyaan kedua. Hitung berapa jumlah kebohongan yang dikatakan mantanmu dalam satu menit?" Bambang: "Tergantung jaringannya, Bu. Kalau 4G bisa sampai seribu, kalau lewat telepati mungkin tak terhingga."

Ibu Siska: "Luar biasa. Sekarang, tes praktik. Coba kamu ukur kedalaman penyesalan saya karena tadi pagi salah beli kopi susu tapi gulanya diganti garam."

Bambang mengeluarkan penggaris kayu 30cm dari tasnya. Ia mendekat ke Ibu Siska, lalu mengukur jarak antara alis kiri dan kanan Ibu Siska.

Bambang: "Menurut perhitungan saya, penyesalan Ibu sedalam 14,5 kilometer di bawah permukaan laut. Solusinya hanya satu: Ibu harus memaafkan barista itu, atau potong gaji saya kalau saya diterima."

Bab 6: Plot Twist Terbesar

Ibu Siska tiba-tiba berhenti berayun. Matanya berkaca-kaca.

Ibu Siska: "Bambang... Kamu adalah satu-satunya pelamar yang berani mengukur alis saya. Biasanya mereka cuma mengukur saku celana saya." Bambang: "Jadi saya diterima, Bu?" Ibu Siska: "Kamu diterima. Tapi bukan jadi Asisten Pengukur Penyesalan." Bambang: "Lalu jadi apa?" Ibu Siska: "Jadi bantal sofa di lobi. Gajinya tiga kali lipat Manajer, tapi kamu cuma boleh gerak kalau jam istirahat."

Bambang: "Deal! Daripada nganggur, jadi bantal pun saya jabanin!"

Bab 7: Hari Pertama Kerja

Bambang resmi bekerja. Ia duduk di lobi mengenakan kostum kotak besar berwarna krem. Seseorang duduk di atasnya.

Orang Tersebut: "Sofa ini empuk banget ya, tapi kok bau kaus kaki Doraemon?" Bambang (dalam hati): "Sabar, Bambang... 25 juta per bulan... Sabar..."

(Bersambung hingga 99.900 kata berikutnya yang berisi keluhan Bambang ditindih tamu VIP)

Posting Komentar

0 Komentar